Wednesday, November 27, 2013

99 Cahaya Mandiri Leadership Camp Batch 2

Semangat pagi! Pagi! Pagi! Pagi!

Ucapan salam yang selalu terngiang akhir-akhir ini. Kenapa? Karena selama 4 hari, aku dibuat terbiasa mendengar kata salam penuh semangat itu setiap saat. Semangat pagi. Itu artinya, kapanpun kata itu diucapkan, semangat yang dikeluarkan harus sama seperti di pagi hari, fresh dan masih full.
Empat hari. Ya. Salah satu empat hari terbaik dalam hidup. Empat hari yang hanya berawal dari kenekatan seorang gadis menjalaninya, berubah menjadi tekad bulat, kini.

MANDIRI LEADERSHIP CAMP BATCH 2
Awalnya aku memang tidak tertarik sama sekali mengikutinya. Tertarik? Haha. Bahkan terlintas di pikiran pun tidak pernah. Bagaimana bisa seorang Bella Fariza Hanifa, gadis bertubuh kecil, yang kadang diacuhkan oleh orang lain, harus tertarik pada sebuah camp kepemimpinan? Haha. Mungkin diriku yang dulu akan menertawakan ini.

Aku ditakdirkan untuk menerima (kembali) beasiswa Karya Salemba Empat (KSE) tahun 2013 ini. Setelah satu tahun menjadi penerima, aku diberi kesempatan lagi untuk menerima bantuan finansial ini. Tekad-ku sejak awal, jika aku diterima lagi menjadi penerima KSE, aku akan menjadi pengurus paguyuban KSE Unpad. Aku akan, harus, dan pasti bisa diterima. Itu yang aku yakini. Tekad-ku sudah bulat. Akhirnya, saat open recruitment pengurus pertama kali dibuka, aku langsung mendaftarkan diri dengan mengirimkan CV. Bahkan saat waktu wawancara tiba, aku menjadi orang yang paling pertama hadir di Rujak (sekre paguyuban KSE Unpad). Sebegitu besarnya tekad-ku untuk menjadi bagian dari pengurus paguyuban KSE Unpad. Aku masih ingat dua orang hebat yang mewawancaraiku saat itu, Nuri Handayani (Fapsi 2009) dan Enang Saepuloh (FMIPA 2009). Dua orang yang sudah aku kenal selama satu tahun.
Beberapa hari kemudian, pengumuman muncul di grup FB KSE Unpad. Pengumuman siapa saja yang ditakdirkan untuk menjadi pengurus paguyuban KSE Unpad 2013/2014. Namaku, tentu saja, tercantum di sana. Alhamdulillah. Keyakinan ini membuahkan hasil.

Pertemuan pertama, kami mendengar visi dan misi dari ketua baru kami, yaitu Febrian Rizkianto (FMIPA 2010). Setelah itu barulah kami melakukan staffing. Dengan menggunakan proses “kekeluargaan” aku 
ditakdirkan untuk menjadi seorang sekretaris. Pengalaman pertama? Ya. Tapi aku harus siap.

Masih belum terpikir untuk mengikuti leadership camp manapun. Tapi entah kenapa, saat ada pengumuman pendaftaran Mandiri Leadership Camp Batch 2 (MLC), hati ini bergetar. Aku ingin mendaftar. Tapi entah apa yang menghalangi diri ini. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk tidak mendaftar.

Hari Kamis, 14 November 2013 mungkin merupakan salah satu hari bersejarah bagiku. Karena di hari itu tiba-tiba saja aku bertekad untuk ikut mendaftar MLC. Terlebih Kak Enang mengatakan bahwa aku akan mendapatkan surat rekomendasi jika aku memang mendaftar MLC karena aku seorang pengurus paguyuban. Semakin kuat-lah tekad ini untuk mendaftar. Seolah lupa, bahwa jika aku mengikuti MLC, aku akan meninggalkan 1 praktikum dan 2 bimbingan. Dengan dukungan banyak pihak juga, akhirnya aku mengirimkan CV dan essay sebagai tanda aku mendaftarkan diri.

Dua hari kemudian, pengumuman MLC Batch 2 muncul. Dengan semangat aku membuka file berisi nama-nama orang yang terpilih menjadi peserta MLC Batch 2. Dan, namaku tidak ada. Ya. Aku tidak diterima. Sedih? Mungkin. Tapi aku lebih merasa menyesal, kenapa tidak sejak awal aku mendaftar. Mungkin saja aku tidak diterima karena aku mendaftar tepat saat deadline. Tapi ya sudahlah, positifnya aku bisa tetap mengikuti praktikum (pikirku saat itu).

Hari Senin, 18 November 2013, aku masih menganggap semuanya normal-normal saja. Sampai akhirnya, sekitar jam 6 sore, ada telepon masuk dengan nomor tidak dikenal. Ternyata yang menghubungiku adalah pihak yayasan KSE yang menawarkan padaku bahwa aku bisa mengikuti MLC Batch 2, karena salah satu peserta ada yang tidak bisa hadir karena satu dan lain hal. Tanpa pikir panjang, aku langsung menjawab “iya, saya bersedia.”

Nekat? Ya. H-2 (sore) aku baru dinyatakan sebagai salah satu peserta MLC. Nekat, karena berarti dalam waktu 1 hari 1 malam, aku harus menyelesaikan surat izin, perlengkapan, dan tugas-tugas selama aku akan meninggalkan perkuliahan. Tapi entah kenapa, keinginan ini begitu kuat. Saking kuatnya, hingga aku dengan cepat bisa melengkapi perlengkapan dan surat izin yang dibutuhkan. Tugas? Selesai, dengan bantuan teman-teman yang lain, aku bisa menyelesaikannya tepat waktu. Terima kasih :)

Apa yang terjadi selama di MLC? Entah aku harus memulai dari mana. BANYAK. Ya, itu satu kata yang menggambarkan semuanya. Banyak yang aku korbankan tapi lebih banyak lagi yang aku dapatkan. Karena di MLC, 99 calon pemimpin hebat berkumpul dan menjadi sebuah keluarga. 99 cahaya di langit Bogor, di langit Indonesia. Hehe.

Sulit jika harus menguraikan apa yang terjadi selama menjalani 4 hari itu. Karena terlalu banyak yang harus ditulis. Sekarang, aku hanya ingin menuliskan apa yang tidak sempat terucapkan kepada mereka. Mereka? 98 calon pemimpin hebat di masa depan.

Spesial, untuk kuartet kesayangan yang selama 4 hari menjadi orang-orang paling care.
Bekti B. Mahardika, Belly Profilyanti, Awad Bin M. Alkatiri

Terima kasih. Terima kasih untuk 4 hari yang luar biasa. Hukuman zona merah? Kita rasakan semuanya. Saat salah satu atau salah dua masuk zona merah, yang lain berkata “its ok. Its ok” dan kita menjalani hukumannya dengan perasaan senang. Terima kasih untuk jalan jongkok sambil meneriakan mars MLC bersama-sama. Terima kasih untuk kesediaan menyeburkan kaki ke kolam lalu berteriak “INI ZONA MERAH TERAKHIR SAYA!” sebanyak 2000 kali bersama-sama. Terima kasih untuk kesediaannya tidur di luar kamar, tanpa mengeluh, walaupun cuaca yang sangat sangat sangat dingin.  Terima kasih untuk selalu siap beranjak dari tempat duduk, jika salah satu dari kita ada yang ingin ke toilet. Terima kasih untuk air mata yang kalian bagi. Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih :)


Dear Belly, maaf jika awalnya aku banyak mengeluh, banyak mengkritik, tanpa mau melakukan perubahan. Kamu tau, kamu mengajarkanku untuk tetap berpikir positif, tidak mengeluh, dan selalu moving forward apapun kondisinya. Terima kasih sudah berkata, “Gak apa-apa. Jangan keluhin hukumannya, sekarang kita pikirin mau presentasi apa.” Kamu mengajarkanku banyak hal, bahkan mungkin tanpa kamu menyadarinya. Terima kasih, kembaran :)

Dear Bekti, maaf jika aku membuatmu kurang nyaman di awal. Tapi, kamu tau, kamu mengajarkanku apa itu bangkit, semangat, dan move on. Saat kamu ada di zona merah, sedang aku ada di zona biru, aku iri. Iri dengan semangatmu. Bahkan mungkin aku rela menukarkan pita biru dengan pita merah, jika dengan itu aku bisa merasakan semangat yang sama denganmu. Terima kasih, untuk senyuman semangat yang selalu kamu tampilkan. Kamu mengajarkanku banyak hal, bahkan mungkin tanpa kamu menyadarinya. Terima kasih, Bekti :)

Dear Al, maaf kalau aku sering negur bahkan mungkin terkesan galak. Hehe. Terima kasih untuk kepolosan yang melekat erat itu. Kamu tau, kamu memang lebih sering diam, bahkan kamu sempat tertidur saat materi. Kamu tidak terlihat aktif, lebih sering terlihat mengantuk. Tapi sekarang aku tau, kamu memang tidak tampil di depan publik, tapi kamu dibutuhkan oleh banyak orang. Aku tidak perlu tanya berapa kartu kehidupan yang kamu dapat malam itu. Banyak, bukan? Bahkan kamu salah satu yang mendapat kartu kehidupan yang banyak. Kamu dibutuhkan, Al, oleh banyak orang, bahkan dalam diammu. Terima kasih, sudah mengajarkan aku banyak hal, bahkan mungkin tanpa kamu sadari. Terima kasih, Al :)


Mereka bertiga, mungkin akan jadi 3 orang pertama yang aku rindukan jika mengingat tentang MLC. Maaf ya, aku gak membalas kartu kehidupan yang kalian bertiga berikan. Karena aku yakin, kalian selalu layak untuk hidup, tanpa perlu aku berikan kartu kehidupanku. Terima kasih, kuartet AB3 :) Hehe.

Dear KM, oke menyebut nama kamu di sini emang sedikit random. Terima kasih, sudah mengatakan dua kata yang menyadarkanku banyak hal, malam itu. Saat sesi kartu kehidupan, kamu tidak begitu saja melewatiku dan berkata “kamu mati”. Kamu tau, saat kamu berdiri di hadapanku dan berkata “Lebih sensitif. Bella, kamu mati.” Aku tertegun beberapa saat. Lebih sensitif? Aku tidak mengerti. Sampai akhirnya, keesokan harinya, aku memberanikan diri bertanya apa maksudnya. 
"Kamu harus lebih sensitif. Aku tau kamu sensitif, aku tau kamu itu selalu memperhatikan yang lain, walaupun kamu diam. Iya kan? Tapi pernah gak, saat kamu memperhatikan, lalu kamu membandingkannya dengan dirimu sendiri?”
Aku mengerti, terima kasih, kamu megajarkanku banyak hal, bahkan mungkin tanpa kamu menyadarinya. Terima kasih, KM :)

Dear Indah, aku kaget. Hehe. Aku tidak pernah menyangka kamu akan berikan salah satu kartu kehidupan kamu untukku. Terima kasih. Awalnya aku bahkan tidak menemukan alasan kenapa kamu rela memberi kartu itu. Tapi kamu mengajari aku hal penting yang sering aku lupakan. Saat kita tulus menolong orang lain, tunggulah saatnya, sampai orang itu akan membalas ketulusanmu. Terima kasih, kamu mengajarkanku banyak hal bahkan mungkin tanpa kamu menyadarinya. Kamu selalu layak untuk hidup. Terima kasih, Indah :)


Dear 93 pemimpin hebat lainnya. Akan memakan waktu yang sangat lama jika harus menyebutkan kalian satu persatu di sini. Hehe. Untukku, kalian bukan teman. Aku tidak pernah mendapatkan teman dari MLC. Tapi kalian itu keluarga. Keluarga yang sangat aku sayangi. Ya, aku memang mudah menyayangi orang, tapi 4 hari adalah waktu yang cukup untuk membuatku yakin bahwa kalian adalah keluargaku :) Terima kasih, untuk semua kebersamaan, semua tawa, semua beban berat yang kita pikul sama-sama, semua kebahagiaan, semua senyuman itu, terima kasih.
Tidak ada yang kebetulan. Semua yang terjadi memang sudah ditakdirkan terjadi pada kita. Bertemu kalian pun adalah sebuah takdir. Dan semoga ada takdir lain yang akan mempertemukan kita semua lagi saat kita sudah meraih kesuKSEsan kita masing-masing. Aamiin.

Tetaplah bersinar, 99 cahaya di langit Indonesia :)


Tatap mata yang tajam
Sikap penuh Wibawa
Semangat berkobar di dada

Berat sama dipikul
Ringan sama dijinjing
Patah tumbuh hilang berganti

Walau badan hancur lebur
Maju terus pantang mundur
Kesetiaan kami takkan luntur
Mandiri leadership, Mandiri leadership
Mandiri, ayo kita maju!

Bella Fariza Hanifa

Jatinangor, 27 November 2013

2 Comment(s):

Grup Bahasa HAELKO 098 (2013) said...

abis baca blog mu ini....
Aku cuma bisa wow wow wow... #smbil mnitikan air mataa#
aku trharruu,,,mskpun aku ga trllu dket dgn kmu,,tpi aku merasa kmu juga keluargaku terbaikku di MLC,
jaga teruss kekeluargaan kitaa yaa:*
miss u all:D

Bella Fariza said...

aaaaa.. makasih Yatriii :') hihi. semua anak MLC batch 2 emang udah jadi keluarga banget lah. haha ada di semua medsos juga. haha jd ngeksis terus :'))
insyaa Allah tetep kejaga yaaa silaturahimnya..

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Spinning Blue Star With Falling Stars