Semangat
pagi! Pagi! Pagi! Pagi!
Ucapan
salam yang selalu terngiang akhir-akhir ini. Kenapa? Karena selama 4 hari, aku
dibuat terbiasa mendengar kata salam penuh semangat itu setiap saat. Semangat
pagi. Itu artinya, kapanpun kata itu diucapkan, semangat yang dikeluarkan harus
sama seperti di pagi hari, fresh dan
masih full.
Empat
hari. Ya. Salah satu empat hari terbaik dalam hidup. Empat hari yang hanya
berawal dari kenekatan seorang gadis menjalaninya, berubah menjadi tekad bulat,
kini.
MANDIRI
LEADERSHIP CAMP BATCH 2
Awalnya
aku memang tidak tertarik sama sekali mengikutinya. Tertarik? Haha. Bahkan
terlintas di pikiran pun tidak pernah. Bagaimana bisa seorang Bella Fariza
Hanifa, gadis bertubuh kecil, yang kadang diacuhkan oleh orang lain, harus
tertarik pada sebuah camp
kepemimpinan? Haha. Mungkin diriku yang dulu akan menertawakan ini.
Aku ditakdirkan untuk menerima (kembali)
beasiswa Karya Salemba Empat (KSE) tahun 2013 ini. Setelah satu tahun menjadi
penerima, aku diberi kesempatan lagi untuk menerima bantuan finansial ini.
Tekad-ku sejak awal, jika aku diterima lagi menjadi penerima KSE, aku akan
menjadi pengurus paguyuban KSE Unpad. Aku akan, harus, dan pasti bisa diterima.
Itu yang aku yakini. Tekad-ku sudah bulat. Akhirnya, saat open recruitment pengurus pertama kali dibuka, aku langsung
mendaftarkan diri dengan mengirimkan CV. Bahkan saat waktu wawancara tiba, aku
menjadi orang yang paling pertama hadir di Rujak (sekre paguyuban KSE Unpad).
Sebegitu besarnya tekad-ku untuk menjadi bagian dari pengurus paguyuban KSE
Unpad. Aku masih ingat dua orang hebat yang mewawancaraiku saat itu, Nuri
Handayani (Fapsi 2009) dan Enang Saepuloh (FMIPA 2009). Dua orang yang sudah
aku kenal selama satu tahun.
Beberapa
hari kemudian, pengumuman muncul di grup FB KSE Unpad. Pengumuman siapa saja
yang ditakdirkan untuk menjadi
pengurus paguyuban KSE Unpad 2013/2014. Namaku, tentu saja, tercantum di sana. Alhamdulillah. Keyakinan ini membuahkan
hasil.
Pertemuan
pertama, kami mendengar visi dan misi dari ketua baru kami, yaitu Febrian
Rizkianto (FMIPA 2010). Setelah itu barulah kami melakukan staffing. Dengan menggunakan proses “kekeluargaan” aku
ditakdirkan untuk menjadi seorang
sekretaris. Pengalaman pertama? Ya. Tapi aku harus siap.
Masih
belum terpikir untuk mengikuti leadership
camp manapun. Tapi entah kenapa, saat ada pengumuman pendaftaran Mandiri
Leadership Camp Batch 2 (MLC), hati ini bergetar. Aku ingin mendaftar. Tapi
entah apa yang menghalangi diri ini. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk tidak
mendaftar.
Hari
Kamis, 14 November 2013 mungkin merupakan salah satu hari bersejarah bagiku.
Karena di hari itu tiba-tiba saja aku bertekad untuk ikut mendaftar MLC.
Terlebih Kak Enang mengatakan bahwa aku akan mendapatkan surat rekomendasi jika
aku memang mendaftar MLC karena aku seorang pengurus paguyuban. Semakin
kuat-lah tekad ini untuk mendaftar. Seolah lupa, bahwa jika aku mengikuti MLC,
aku akan meninggalkan 1 praktikum dan 2 bimbingan. Dengan dukungan banyak pihak
juga, akhirnya aku mengirimkan CV dan essay sebagai tanda aku mendaftarkan
diri.
Dua
hari kemudian, pengumuman MLC Batch 2 muncul. Dengan semangat aku membuka file
berisi nama-nama orang yang terpilih menjadi peserta MLC Batch 2. Dan, namaku tidak ada. Ya. Aku tidak diterima.
Sedih? Mungkin. Tapi aku lebih merasa menyesal, kenapa tidak sejak awal aku
mendaftar. Mungkin saja aku tidak diterima karena aku mendaftar tepat saat
deadline. Tapi ya sudahlah, positifnya aku bisa tetap mengikuti praktikum
(pikirku saat itu).
Hari
Senin, 18 November 2013, aku masih menganggap semuanya normal-normal saja.
Sampai akhirnya, sekitar jam 6 sore, ada telepon masuk dengan nomor tidak
dikenal. Ternyata yang menghubungiku adalah pihak yayasan KSE yang menawarkan
padaku bahwa aku bisa mengikuti MLC Batch 2, karena salah satu peserta ada yang
tidak bisa hadir karena satu dan lain hal. Tanpa pikir panjang, aku langsung
menjawab “iya, saya bersedia.”
Nekat?
Ya. H-2 (sore) aku baru dinyatakan sebagai salah satu peserta MLC. Nekat,
karena berarti dalam waktu 1 hari 1 malam, aku harus menyelesaikan surat izin,
perlengkapan, dan tugas-tugas selama aku akan meninggalkan perkuliahan. Tapi
entah kenapa, keinginan ini begitu kuat. Saking kuatnya, hingga aku dengan
cepat bisa melengkapi perlengkapan dan surat izin yang dibutuhkan. Tugas?
Selesai, dengan bantuan teman-teman yang lain, aku bisa menyelesaikannya tepat
waktu. Terima kasih :)
Apa
yang terjadi selama di MLC? Entah aku harus memulai dari mana. BANYAK. Ya, itu
satu kata yang menggambarkan semuanya. Banyak yang aku korbankan tapi lebih
banyak lagi yang aku dapatkan. Karena di MLC, 99 calon pemimpin hebat berkumpul dan menjadi sebuah keluarga. 99 cahaya di langit Bogor, di langit Indonesia. Hehe.
Sulit
jika harus menguraikan apa yang terjadi selama menjalani 4 hari itu. Karena
terlalu banyak yang harus ditulis. Sekarang, aku hanya ingin menuliskan apa
yang tidak sempat terucapkan kepada mereka. Mereka? 98 calon pemimpin hebat di
masa depan.
Spesial,
untuk kuartet kesayangan yang selama 4 hari menjadi orang-orang paling care.
Bekti B. Mahardika, Belly
Profilyanti, Awad Bin M. Alkatiri
Terima
kasih. Terima kasih untuk 4 hari yang luar biasa. Hukuman zona merah? Kita
rasakan semuanya. Saat salah satu atau salah dua masuk zona merah, yang lain
berkata “its ok. Its ok” dan kita menjalani hukumannya dengan perasaan senang.
Terima kasih untuk jalan jongkok sambil meneriakan mars MLC bersama-sama.
Terima kasih untuk kesediaan menyeburkan kaki ke kolam lalu berteriak “INI ZONA
MERAH TERAKHIR SAYA!” sebanyak 2000 kali bersama-sama. Terima kasih untuk
kesediaannya tidur di luar kamar, tanpa mengeluh, walaupun cuaca yang sangat
sangat sangat dingin. Terima kasih untuk
selalu siap beranjak dari tempat duduk, jika salah satu dari kita ada yang
ingin ke toilet. Terima kasih untuk air mata yang kalian bagi. Terima kasih untuk
semuanya. Terima kasih :)

Dear Belly, maaf jika awalnya aku banyak
mengeluh, banyak mengkritik, tanpa mau melakukan perubahan. Kamu tau, kamu
mengajarkanku untuk tetap berpikir positif, tidak mengeluh, dan selalu moving forward apapun kondisinya. Terima
kasih sudah berkata, “Gak apa-apa. Jangan keluhin hukumannya, sekarang kita
pikirin mau presentasi apa.” Kamu mengajarkanku banyak hal, bahkan mungkin
tanpa kamu menyadarinya. Terima kasih, kembaran :)
Dear Bekti, maaf jika aku membuatmu
kurang nyaman di awal. Tapi, kamu tau, kamu mengajarkanku apa itu
bangkit, semangat, dan move on. Saat
kamu ada di zona merah, sedang aku ada di zona biru, aku iri. Iri dengan
semangatmu. Bahkan mungkin aku rela menukarkan pita biru dengan pita merah,
jika dengan itu aku bisa merasakan semangat yang sama denganmu. Terima kasih,
untuk senyuman semangat yang selalu kamu tampilkan. Kamu mengajarkanku banyak
hal, bahkan mungkin tanpa kamu menyadarinya. Terima kasih, Bekti :)

Dear Al, maaf kalau aku sering negur bahkan mungkin terkesan galak. Hehe. Terima kasih untuk kepolosan yang melekat
erat itu. Kamu tau, kamu memang lebih sering diam, bahkan kamu sempat tertidur
saat materi. Kamu tidak terlihat aktif, lebih sering terlihat mengantuk. Tapi sekarang
aku tau, kamu memang tidak tampil di depan publik, tapi kamu dibutuhkan oleh
banyak orang. Aku tidak perlu tanya berapa kartu kehidupan yang kamu dapat malam
itu. Banyak, bukan? Bahkan kamu salah satu yang mendapat kartu kehidupan yang
banyak. Kamu dibutuhkan, Al, oleh banyak orang, bahkan dalam diammu. Terima kasih, sudah mengajarkan
aku banyak hal, bahkan mungkin tanpa kamu sadari. Terima kasih, Al :)
Mereka
bertiga, mungkin akan jadi 3 orang pertama yang aku rindukan jika mengingat
tentang MLC. Maaf ya, aku gak membalas kartu kehidupan yang kalian bertiga
berikan. Karena aku yakin, kalian selalu
layak untuk hidup, tanpa perlu aku berikan kartu kehidupanku. Terima kasih,
kuartet AB3 :) Hehe.
Dear KM, oke menyebut nama kamu di sini
emang sedikit random. Terima kasih,
sudah mengatakan dua kata yang menyadarkanku banyak hal, malam itu. Saat sesi
kartu kehidupan, kamu tidak begitu saja melewatiku dan berkata “kamu mati”.
Kamu tau, saat kamu berdiri di hadapanku dan berkata “Lebih sensitif. Bella,
kamu mati.” Aku tertegun beberapa saat. Lebih sensitif? Aku tidak mengerti.
Sampai akhirnya, keesokan harinya, aku memberanikan diri bertanya apa
maksudnya.
"Kamu harus lebih sensitif.
Aku tau kamu sensitif, aku tau kamu itu selalu memperhatikan yang lain,
walaupun kamu diam. Iya kan? Tapi pernah gak, saat kamu memperhatikan, lalu
kamu membandingkannya dengan dirimu sendiri?”
Aku mengerti, terima kasih, kamu megajarkanku banyak hal, bahkan mungkin tanpa kamu menyadarinya. Terima kasih, KM :)

Dear Indah, aku kaget. Hehe. Aku tidak
pernah menyangka kamu akan berikan salah satu kartu kehidupan kamu untukku.
Terima kasih. Awalnya aku bahkan tidak menemukan alasan kenapa kamu rela memberi
kartu itu. Tapi kamu mengajari aku hal penting yang sering aku lupakan. Saat kita tulus menolong orang lain,
tunggulah saatnya, sampai orang itu akan membalas ketulusanmu. Terima
kasih, kamu mengajarkanku banyak hal bahkan mungkin tanpa kamu menyadarinya. Kamu
selalu layak untuk hidup. Terima
kasih, Indah :)

Dear 93 pemimpin hebat lainnya. Akan
memakan waktu yang sangat lama jika harus menyebutkan kalian satu persatu di
sini. Hehe. Untukku, kalian bukan teman. Aku tidak pernah mendapatkan teman
dari MLC. Tapi kalian itu keluarga. Keluarga yang sangat aku sayangi. Ya, aku
memang mudah menyayangi orang, tapi 4 hari adalah waktu yang cukup untuk
membuatku yakin bahwa kalian adalah keluargaku :)
Terima kasih, untuk semua kebersamaan, semua tawa, semua beban berat yang kita
pikul sama-sama, semua kebahagiaan, semua senyuman itu, terima kasih.
Tidak ada yang kebetulan. Semua yang
terjadi memang sudah ditakdirkan terjadi
pada kita. Bertemu kalian pun adalah sebuah takdir. Dan semoga ada takdir lain
yang akan mempertemukan kita semua lagi saat kita sudah meraih kesuKSEsan kita
masing-masing. Aamiin.
Tetaplah bersinar, 99 cahaya di langit Indonesia :)
Tatap mata yang tajam
Sikap penuh Wibawa
Semangat berkobar di dada
Berat sama dipikul
Ringan sama dijinjing
Patah tumbuh hilang berganti
Walau badan hancur lebur
Maju terus pantang mundur
Kesetiaan kami takkan luntur
Mandiri leadership, Mandiri leadership
Mandiri, ayo kita maju!
Bella Fariza Hanifa
Jatinangor, 27 November 2013